Testimoni Lieus Sungkharisma Dalam Peluncuran Buku : “Merawat Indonesia” Karya Presiden PKS Ahmad Syaikhu

175

 

Jakarta, Lensa Islam : Sebuah kebanggaan dan penghormatan tersendiri bagi seorang Tokoh Thionghoa yang aktif memberikan banyak kontribusi positif bagi bangsa ini, Lieus Sungkharisma ketika dimintai testimoninya dalam peluncuran buku Presiden PKS Ahmad Syaikhu yang berjudul “Merawat Indonesia”

“Pertama-tama, saya tentu saja merasa sangat bangga dan berbesar hati karena diminta untuk memberikan testimoni atas terbitnya buku “Merawat Indonesia: Refleksi 76 Tahun Nasionalisme, Demokrasi dan Kemanusiaan” yang ditulis oleh Haji Ahmad Syaikhu, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini,” ujarnya.

Lieus juga mengatakan bahwa di tengah berbagai rongrongan krisis multidimensi yang belum juga berakhir hingga hari ini, ditambah “teror” pandemi covid-29, terbitnya sebuah buku yang membahas nasionalisme, demokrasi dan kemanusiaan pastilah merupakan sumbang saran pemikiran yang harus disambut positif demi memperkaya dialektika kita dalam berkebangsaan dan berperadaban.

“Saat ini, kemerdekaan Republik Indonesia sebagai rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memasuki usia ke-76, ternyata tidak bisa lagi diperingati dengan sorak sorai kegembiraan. Kemerdekaan itu telah berubah menjadi tantangan amat dahsyat yang menuntut kita untuk lebih bekerja keras di semua bidang kehidupan demi terciptanya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga bangsa Indonesia,” kata Lieus kepada media (11/8/2021)

Berbagai bencana dan musibah yang menimpa bangsa dan negara Indonesia menurutnya sejak beberapa tahun terakhir ini, baik musibah yang bersumber dari bencana alam seperti Banjir Bandang, Tanah Longsor, Tsunami, Gempa Bumi, Kebakaran Hutan dan sebagainya, maupun bencana yang bersumber dari perbedaan cara pandang, cara bersikap dan cara bertindak yang berakibat pada pertikaian horizontal antar warga masyarakat, telah menimbulkan problem yang amat serius dalam kehidupan nasional bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan keluarga besar warga bangsa di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Dinamika politik baik dalam skala regional maupun nasional, telah pula menyebabkan semangat kebangsaan, persatuan dan persaudaraan anak-anak negeri kehilangan kekuatannya. Gerakan reformasi telah gagal dan dianggap tidak memiliki cukup wibawa untuk membawa obor pencerahan terhadap nasib 100 juta lebih penduduk miskin di Indonesia. Sebab, ketika bencana alam terjadi dimana-mana, ketika kemiskinan dan pengangguran merajalela, justru praktek korupsi, kolusi dan nepotisme berlangsung tanpa kendali,” tandasnya lagi.

Dalam situasi yang demikian itu, harapan seperti apakah yang bisa kita bangun untuk kejayaan bangsa di masa depan ?
Sebagai negara dengan 270 juta lebih penduduk, kesabaran kita sebagai sebuah bangsa nampaknya masih terus diuji.

Oleh karena itu menurutnya lagi, agar bangsa ini dapat melanjutkan perjalanan sejarahnya menuju cita-cita menjadi bangsa besar yang berdaulat, beradab dan bermartabat, maka kita sendirilah yang harus mengusahakannya. Kita sendirilah yang harus membenahi berbagai kerusakan dan kekurangan yang terjadi selama ini dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita semua haruslah menyadari bahwa bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang bermartabat karena campur tangan negara lain.

Yang bisa mempertahankan kedaulatan sekaligus membangun martabat bangsa dan negara Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri.Dalam konteks itulah dirinya menyambut baik kehadiran buku ini.

“Saya juga berharap, di tengah kita semua memperingati 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, buku yang ditulis oleh Bapak Ahmad Syaikhu ini bisa menjadi pembelajaran sekaligus stimulus bagi kita untuk segera bangkit dan membenahi semua kerusakan yang pernah dan sedang terjadi dalam tatanan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita,” tandasnya

Lieus juga berkeyakinan, bangsa kita tidak akan bisa menjadi bangsa besar dan memiliki ketahanan nasional yang kokoh kuat jika sebagai bangsa kita tidak memiliki kemampuan untuk memegang teguh komitmen kebangsaan yang telah disepakati bersama oleh para founding fathers republik ini.

Bangsa kita hanya akan bangkit dan menjadi kuat bila kita semua bersedia bergandengan tangan untuk membangun kembali semangat kebangsaan yang sudah mulai terkikis itu.

“Bila kita mau membangun kembali rasa nasionalisme kita untuk kemudian, secara bersama-sama, menumbuhkan sikap jujur dan ikhlas dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan, dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas segala-galanya.Akhirnya, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Saya percaya buku ini akan memberi banyak manfaat kepada pembacanya,” pungkasnya.

 
Lieus Sungkharisma

comments

LEAVE A REPLY