Sarasehan Wasathi : Optimalisasi Islam Kebangsaan Dalam Mensukseskan Vaksinasi Covid 19 dan PPKM Darurat

287

Jakarta, Lensa Islam – Sebuah acara sarasehan yang diadakan oleh Wadah Silahturahim Khatib Indonesia (Wasathi) telah di selenggarakan di Masjid Jami’ Al Ijtihad Jl. K. H. Moch. Mansyur No.36, RT.1/RW.2, Duri Utara, Kec. Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11270.

Adapun Narasumber dalam kegiatan ini adalah KH. Arif Fachrudin (Ketua Pembina WASATHI sekaligus Wasekjend MUI Pusat, KH. Saeful Bahri, Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat, Dr. KH. M. Ishom El Saja, Pengasuh Ma’had Ar Rohimiyyah Cengkareng dan Serang, dan Ustadz. Lili Muhtadin SH.

Kemudian KH. Syaeful Bhari menyampaikan dalam isi materinya tentang “Implementasi Fiqih Kewarganegaraan” yaitu; Islam Kebangsaan adalah corak islam moderat dan wasathiyah yang berupaya untuk membumikan Ajaran islam Rahmatan Lil Alamin. Dengan cara Menguatkan pandangan terkait islam yang “Shalih likulli zaman wal makan” sehingga menghasilkan ajaran islam yang solutif, memberikan kemudahan dan dapat di implementasikan dengan baik pada setiap kondisi keadaan.

Kemudian tuturnya kembali, Keterkaitan regulasi pemerintah dalam bentuk perundang-undangan dengan syariat islam dalam membentuk peraturan di indonesia ini tidak melanggar baik hukum perundang-undangan itu sendiri dengan nilai-nilai keagamaan atau syariat islam.
Sehingga Khotib harus memberikan pemahaman dalam dakwahnya untuk meingimplementasikan dan mensosialisasikan program pembangunan nasional dalam bidang keagamaan dan kemasyaraktan terutama dalam menanggulangi pandemi covid 19 yang sedang melanda dunia.

Kesimpulan “Dai ikut beperan mengajak masyarakat untuk taat dengan aturan pemerintah”

Kemudian pada materi kedua yang disampaikan oleh Dr. KH. M. Ishom El saha pada isi materinya tentang “Fiqih Khutbah di masa pandemi”.Beliau bertutur, Pada pandemi covid 19 ini para khotib pelu memkai kaidah ushul fiqih yaitu “Maa laa yudraku kulluh laa yudroku kulluh”, jadi dalam menjalankan ibadah tidak perlu untuk meninggalkan seluruhnya, akan tetapi dengan menyesuaikan kondisi yang ada, seperti memperbolehkan sholat jumat dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan memakai masker.
Khotib harus memberikan isi khutbah yang berkualitas dalam jangka waktu 15 menit tetapi tetap memperhatikan syarat dan rukun pada khotib sholat jumat, sehingga materi yang di sampaikan dapat mudah di terima dan sah menurut syariat agama terutama pada situasi covid 19 ini.

Kesimpulan “Khotib harus bisa memanafaatkan waktu 15 menit tanpa mengurangi kualitas isi khutbah”

Dan yang terakhir adalah KH. Arif fachrudin. MA. Yang dalam materinya tentang “Fiqih Kebangsaan” beliau mengatakan bahwa Wasathi mengusulkan dan menggagas untuk mengadakan Kurikulumisasi Khutbah Jum’at. Bukan berarti seragamisasi, yaitu dengan membuat silabus secara umum saja dan nanti disesuaikan dengan kebutuhan serta tantangan yang ada pada setiap daerah. Dengan ini Khotib Jumat menjadi solutif dengan berbagai tantangan yang ada pada setiap lapis daerah yang ada di Indonesia.

Pemerintah dan Ulama harus bersinergi dalam penanganan covid 19 ini. Dengan cara pemerintah membuat regulasi yang mendukung pada pencegahan covid 19 ini, seperti : pemberlakuan ppkm dan memberikan bantuan sosial sedangkan peran para ulama adalah memberikan edukasi dalam setiap agenda ritual keagamaan untuk mematuhi aturan pemerintah karena inilah bentuk sinergisitas pemerintah dan ulama dalam penanggulangan covid 19.

Dengan demikian, seleruh komponen elemen bangsa harus bersatu padu dalam memerangi pandemi Covid 19 ini dengan penuh kerjasama dan gotong royong bersama.

comments

LEAVE A REPLY