KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA — Selama bertahun-tahun, Nenek Ondeng tinggal di sebuah rumah panggung tua dengan kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Di tempat itulah seorang ibu menjalani hari-harinya sebagai janda sambil merawat putranya, Sudi, yang telah berusia sekitar 30-an tahun dan memiliki keterbatasan penglihatan serta pendengaran.
Kondisi tersebut kini berubah. Lazis Muadz meresmikan Rumah Layak Huni (RLH) ke-51 bagi Nenek Ondeng di Desa Torobullu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (23 Safar 1448 H / 8 Agustus 2026).
Peresmian dihadiri Kepala Desa Torobullu Nilham, S.Pd. bersama perangkat desa, Babinsa Torobullu, Kapolsek Kecamatan Laeya, jajaran Lazis Muadz, serta warga sekitar yang turut menyaksikan prosesi tersebut.
Ada cerita lintas negara di balik berdirinya rumah ini. Dana pembangunannya merupakan hasil gotong royong kaum Muslimin di Inggris yang dihimpun melalui Aid For Ummah Inggris, sebuah lembaga sosial yang berkedudukan di Inggris. Amanah tersebut kemudian diwujudkan melalui Lazis Muadz dalam bentuk rumah yang dirancang sesuai kebutuhan penerima manfaat.
Pembina Lazis Muadz, Ustadz Zezen Zaenal Mursalin, Lc., menyampaikan rasa syukurnya atas kepedulian tersebut.
“Siapa yang menyangka Nenek Ondeng akan mendapatkan bantuan rumah dengan biayanya yang diberikan saudara-saudara kita dari Inggris. Ini menandakan bahwa Muslim itu satu dan peduli pada sesama tanpa mengenal batas wilayah.”
Konsep bangunan RLH ke-51 ini juga dibuat berbeda dengan sejumlah rumah yang telah dibangun sebelumnya. Kondisi Sudi menjadi salah satu pertimbangan dalam perancangannya. Rumah dilengkapi teras yang cukup luas dengan setengah dinding, sehingga memberikan ruang bagi Sudi untuk mendapatkan sinar matahari pagi dalam lingkungan yang tetap aman.
Sementara itu, kebutuhan dasar keluarga dipenuhi melalui satu kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Penataan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang tinggal yang lebih aman dan nyaman bagi Nenek Ondeng dalam mendampingi putranya.
Kepala Desa Torobullu, Nilham, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diterima salah satu warganya tersebut. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan rumah tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan kepada warga kami. Semoga rumah ini memberikan manfaat bagi Nenek Ondeng dan anaknya serta menjadi amal kebaikan bagi semua pihak yang terlibat,” ujarnya.
Usai prosesi peresmian, para tamu bersama warga kemudian melihat langsung bagian dalam rumah. Momen tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya babak baru bagi Nenek Ondeng dan Sudi setelah bertahun-tahun menempati rumah panggung yang kondisinya semakin tidak layak.
Bagi Lazis Muadz, pembangunan RLH ke-51 menjadi bagian dari ikhtiar mengubah amanah zakat, infak, sedekah, dan donasi kemanusiaan menjadi manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.
Kisah rumah Nenek Ondeng menunjukkan bahwa sebuah kepedulian dapat menempuh perjalanan yang panjang. Dari masyarakat Muslim di Inggris, melewati lembaga sosial Aid For Ummah, hingga akhirnya menjadi rumah yang berdiri di Desa Torobullu—sebuah bukti bahwa jarak tidak menghalangi persaudaraan untuk menghadirkan kebaikan(AD)
