KOTA KENDARI – Pagi itu, Ibu Yuningsih masih sibuk di dapurnya yang sederhana. Adonan kue yang ia siapkan menjadi harapan kecil untuk menyambung kebutuhan hari itu. Di tengah keterbatasan, ia terbiasa menjalani hari dengan apa adanya.
Namun pagi itu berbeda.
Langkah beberapa orang yang datang membawa karung beras membuat suasana berubah. Tim Lazis Muadz hadir, mengetuk pintu-pintu yang selama ini mungkin jarang tersentuh perhatian.
Ketika bantuan itu tiba di tangannya, raut wajah Ibu Yuningsih perlahan berubah. Ada lega, ada syukur, dan ada harapan yang kembali tumbuh.
“Alhamdulillah… ini sangat membantu kebutuhan pokok kami,” ucapnya lirih.
Bagi sebagian orang, beras mungkin hanya kebutuhan biasa. Namun bagi mereka yang harus menghitung setiap rupiah, bantuan itu berarti lebih dari sekadar makanan—ia adalah ketenangan untuk beberapa hari ke depan.
Tak jauh dari sana, di kawasan Jl. Laode Hadi By Pass, Ibu Suhana merasakan hal yang sama. Ia merawat Akila, seorang anak yatim yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Di tengah kehidupan yang tak selalu mudah, bantuan itu datang seperti jawaban atas doa-doa yang diam-diam dipanjatkan.
“Alhamdulillah… kami sangat bersyukur, sangat terbantu,” tuturnya dengan suara yang tertahan.
Di balik cerita-cerita sederhana itu, Lazis Muadz menyalurkan total 1,5 ton beras untuk kaum dhuafa, anak yatim, dan janda yang membutuhkan. Penyaluran dimulai dari Kota Kendari, dan akan terus berlanjut ke wilayah lain secara bertahap.
Ketua Program Kado untuk Dhuafa, Ansar, menjelaskan bahwa setiap penerima telah melalui proses pendataan yang matang, agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.
Namun lebih dari sekadar angka dan distribusi, program ini sejatinya adalah tentang menghadirkan kepedulian—bahwa di tengah kesulitan, masih ada tangan-tangan yang peduli dan hati yang mau berbagi.
Bantuan 1,5 ton beras itu kini mulai berpindah dari satu titik ke titik lain. Tapi yang sesungguhnya tersebar bukan hanya beras—melainkan harapan, doa, dan rasa bahwa mereka tidak sendiri.
Di sudut-sudut kota, di rumah-rumah sederhana, senyum-senyum kecil mulai kembali hadir.
Dan bagi Ibu Yuningsih serta Ibu Suhana, hari itu bukan lagi sekadar hari biasa.
