Perkuat Ekonomi Umat dari Masjid

120

Jakarta, Lensa Islam – Selain sebagai tempat ibadah mahdlah, masjid seharusnya menjadi tempat pelarian dari berbagai problematika kehidupan. Sebagaimana fungsi masjid di zaman Nabi Muhammad SAW, yang membawa keberkahan dan menjadi langkah awal dalam kemerdekaan ummat.

Hal tersebut disampaikan Walikota Bengkulu, Helmi Hasan dalam kegiatan webinar bertajuk ‘Muharram Kebangkitan Ekonomi Umat dari Masjid dan Pesantren’ yang diselenggarakan Langit7.id. “Di masa pandemi Covid-19 saat ini, dampak perubahan di berbagai sektor sulit dirasakan oleh masyarakat, khususnya sektor perekonomian dan kesehatan yang cukup terpukul akan kejadian ini,” kata Helmi secara virtual, Senin (30/8).

Maka, lanjutnya, solusi untuk kembali mendapatkan kebaikan yaitu dengan kembali memakmurkan masjid. Allah janjikan siapa yang memakmurkan masjid, maka negara itu pun akan dimakmurkan oleh Allah. “Kalau allah sudah cinta kepada suatu negara, tidak mungkin akan ada bencana,” ujarnya.

CEO Langit7.id, Muhamad Ali menyampaikan, dengan pelaksanaan Webinar pada hari ini, Langit7.id akan terus menyosialisaikan bahwa peran masjid tidak hanya menjadi sarana atau tempat beribadah, melainkan pusat pendidikan, pembinaan, dan peradaban ummat Islam. Masjid selain menjalankan fungsi sebagai pusat data ummat Islam berbasis jamaah, juga menjadi role model akuntabilitas pengelolaan keuangan, pusat informasi ummat, dan menjadi wadah untuk membangun perekonomian ummat, memakmurkan dan menyejahterakan rakyat.

“Demikian halnya dengan pesantren sebagai pusat dakwah dan syiar Islam untuk mewujudkan konsep Islam Wasathiyah (Islam Moderat), dan menjadi wadah untuk membangun kecerdasan akal serta menjernihkan dan mencerdaskan qalbu (hati) bagi generasi bangsa ini. Di pesantren juga menjadi ladang usaha untuk membina dan memulai pengembangan entrepreneurship berbasis keummatan,” ujarnya.

Ali melanjutkan, hasil survei Kementerian Agama RI, pandemi Covid-19 melahirkan religiositas (ketaatan beragama) masyarakat Indonesia sebesar 81 persen. Sebanyak 97 persen responden mengaku agama membantu menghadapi pandemi dan dampaknya. Hasil survei ini menunjukkan pentingnya penyebaran agama sebagai sumber inspirasi, solusi, dan edukasi bagi masyarakat Indonesia.

“LANGIT7.ID menjadi bagian dari jawaban atas kebutuhan ummat Islam tersebut. Sebagaimana juga dua kanal yang dimiliki, Kanal Masjid dan Kanal Pesantren, dua wadah ini sangat strategis sebagai sumur inspirasi umat dalam bingkai syiar Islam,” katanya.

Pada kesempatan sama, pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an, KH Yusuf Mansur (UYM), mengatakan, spirit muharram bisa dimanfaat untuk memanfaatkan masjid sebagai pemberdayaan ekonomi masyarakat. Masjid merupakan sentral kegiatan umat Islam, baik berupa ibadah mahdhah ataupun ibadah ghairu mahdhah.

“Itu terlihat ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Bangunan yang pertama beliau bangun adalah masjid. Dari bangunan itu, semua kegiatan umat Islam dilakukan, termasuk kegiatan ekonomi. Dari situ tercipta kemakmuran dan kesejahteraan, tidak hanya bagi umat Islam, tapi juga untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Menurut UYM, dalam Islam, ibadah tidak hanya meliputi kegiatan-kegiatan ruhiyah di dalam masjid saja, namun meliputi semua aspek kehidupan masyarakat. Termasuk kegiatan ekonomi seperti industri, pasar saham, pasar modal, hingga pengelolaan perusahaan.

“Mungkin kesalahan kita juga ketika tidak gegap-gempita masuk ke pasar, masuk ke pabrik, kantor, ke peursahaan, industry online misalnya, pasar saham, pasar modal,dan seluruh kegiatan ekonomi, karena kita praktis berpuluh-puluh tahun mendikotomikan ibadah hanya seperti itu (ibadah hanya di masjid, tidak meliputi kegiatan ekonomi),” ujar UYM.

Sementara, Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan, ustaz Muhammad Jazir menyampaikan selama masa sulit ini, Masjid Jogokariyan banyak menginisiasi berbagai program ketahanan masyarakat. Program tersebut terbagi ke dalam bantuan pangan, kesehatan, dan perekonomian. Dalam bantuan pangan misalnya, Masjid Jogokariyan menyalurkan hampir seribu paket sembako kepada warga terdampak.

“Di awal pandemi kita sudah buat maklumat bahwa Masjid Jogokariyan tidak akan ditutup, maka kita memberikan bantuan kepada masyarakat,” ujar Jazir.

Saat fasilitas kesehatan milik pemerintah semakin sibuk dan tertatih-tatih menangani pasien Covid-19, Masjid Jogokariyan turun tangan dengan menyediakan rumah isolasi bagi warga yang rumahnya tidak layak sebagai tempat isoman.

Jazir mengatakan, masyarakat yang isoman di rumah isolasi masjid maupun di rumah masing-masing mendapat bantuan uang tunai dari Masjid Jogokariyan Rp500 ribu per jiwa. Masjid juga mencukupi kebutuhan makan pasien sehari tiga kali dengan menu bergizi, termasuk vitamin dan obat-obatannya.

Masjid Jogokariyan menyediakan bantuan oksigen untuk pasien yang isoman maupun gawat darurat rumah sakit di Yogyakarta yang mengalami krisis ketersediaan oksigen dan tabung gas menjadi langka. “Jadi di masa pandemi justru peran masjid sangat diperlukan, maka tidak mungkin masjid ditutup,” kata Jazir.

comments

LEAVE A REPLY