Jejak Muslim Rohingya di Tanah Haram

715

Raihan, bocah kecil usia 13 tahun ini lahir dan tinggal di Mekkah. Dia hidup bersama kedua orang tuanya dalam sebuah rumah diatas gunung.

Raihan dan kedua orang tuanya, adalah diantara ratusan ribu muslim Rohingya yang hidup dalam pelarian di Arab Saudi. Tinggal di negeri orang, tanpa status kewarganegaraan.

Orang tua Raihan, lari dari kampung halamannya berpuluh tahun silam. Beruntung dia dapat singgah dan hidup di tanah suci. Dekat dengan ka’bah, dan tentu lebih mudah mencari penghidupan yang lebih baik dan layak.

Bukan hanya Raihan, banyak anak-anak “maulud” Rohingya di Mekkah yang berjualan makanan di dekat hotel-hotel Indonesia. Bermodal dengan beberapa kosa kata bahasa Indonesia, mereka menawarkan barang dagangan, seperti nasi kuning, krupuk, telor rebus, sambal goreng, dan lain-lain.

“Ayo bu, ayo bu.. Murah, murah, silahkan beli,” kata Raihan menawarkan dagangannya kepada para jamaah haji Indonesia tepat di depan hotel Rizq Palace di Misfalah, Jumat, 26 Juli 2019.

Sejak pukul 03.00 pagi Raihan sudah datang di depan hotel, kemudian langsung menggelar barang dagangannya. Dia diantar oleh orang tuanya. Raihan juga berdagang bersama kakak dan beberapa temannya. Berjualan hingga pukul 07.00 pagi.

Jenis masakannya memang masakan Indonesia, tetapi rasanya sedikit berbeda. Maklum, yang memasak bukan orang Indonesia.

Raihan mengatakan, yang memasak adalah ibunya. “Ibu saya yang memasak pada malam hari,” kata dia.

Sebenarnya, aturan pemerintah Saudi melarang pedagang yang menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan tanpa izin. Resiko bagi yang tertangkap adalah deportasi. Banyak orang-orang Indonesia yang tertangkap polisi dapat berdagang seperti ini. Mereka langsung dipulangkan.

Pagi ini ada mobil polisi berhenti tepat di depan lapak para bocah ini. Mereka lari berhamburan. Tetapi nampaknya polisi tidak serius untuk menangkap para bocah pengungsi ini. Mungkin dilematis. Kalau sudah ditangkap, mau dikemanakan bocah-bocah ini?. Toh mereka adalah pengungsi yang tidak memiliki negara. Mau dideportasi kemana?.

Saat ditanya, apakah Raihan dan teman-temannya sekolah?

“Iya. Saya sekolah kelas 5 SD. Saya juga ikut program tahfidz di Masjid. Teman-teman saya juga semua sekolah,” tutur Raihan.

Jejak Muslim Rohingya di Tanah Haram Raihan, bocah kecil usia 13 tahun ini lahir dan tinggal di Mekkah. Dia hidup bersama kedua orang tuanya dalam sebuah rumah diatas gunung. Raihan dan kedua orang tuanya, adalah diantara ratusan ribu muslim Rohingya yang hidup dalam pelarian di Arab Saudi. Tinggal di negeri orang, tanpa status kewarganegaraan. Orang tua Raihan, lari dari kampung halamannya berpuluh tahun silam. Beruntung dia dapat singgah dan hidup di tanah suci. Dekat dengan ka'bah, dan tentu lebih mudah mencari penghidupan yang lebih baik dan layak. Bukan hanya Raihan, banyak anak-anak "maulud" Rohingya di Mekkah yang berjualan makanan di dekat hotel-hotel Indonesia. Bermodal dengan beberapa kosa kata bahasa Indonesia, mereka menawarkan barang dagangan, seperti nasi kuning, krupuk, telor rebus, sambal goreng, dan lain-lain. "Ayo bu, ayo bu.. Murah, murah, silahkan beli," kata Raihan menawarkan dagangannya kepada para jamaah haji Indonesia tepat di depan hotel Rizq Palace di Misfalah, Jumat, 26 Juli 2019.Sejak pukul 03.00 pagi Raihan sudah datang di depan hotel, kemudian langsung menggelar barang dagangannya. Dia diantar oleh orang tuanya. Raihan juga berdagang bersama kakak dan beberapa temannya. Berjualan hingga pukul 07.00 pagi. Jenis masakannya memang masakan Indonesia, tetapi rasanya sedikit berbeda. Maklum, yang memasak bukan orang Indonesia. Raihan mengatakan, yang memasak adalah ibunya. "Ibu saya yang memasak pada malam hari," kata dia. Sebenarnya, aturan pemerintah Saudi melarang pedagang yang menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan tanpa izin. Resiko bagi yang tertangkap adalah deportasi. Banyak orang-orang Indonesia yang tertangkap polisi dapat berdagang seperti ini. Mereka langsung dipulangkan. Pagi ini ada mobil polisi berhenti tepat di depan lapak para bocah ini. Mereka lari berhamburan. Tetapi nampaknya polisi tidak serius untuk menangkap para bocah pengungsi ini. Mungkin dilematis. Kalau sudah ditangkap, mau dikemanakan bocah-bocah ini?. Toh mereka adalah pengungsi yang tidak memiliki negara. Mau dideportasi kemana?. Saat ditanya, apakah Raihan dan teman-temannya sekolah? "Iya. Saya sekolah kelas 5 SD. Saya juga ikut program tahfidz di Masjid. Teman-teman saya juga semua sekolah," tutur Raihan.

Dikirim oleh Budi Marta Saudin pada Kamis, 25 Juli 2019

Oleh : Ustadz Budi Marta Saudin

comments

LEAVE A REPLY