Hadist Palsu dan Bathil Setiap Hari Raya Idhul Adha

16525

Lensa Islam : Berapa waktu ini jelang Hari Raya Idhul Adha beredar seruan dan ajakan yang berasal dari rujukan hadist. Yang redaksi nya berbunyi sebagai berikut ini :

“Saling memaafkanlah kalian sebelum Hari Arafah karena Nabi Muhammad (Saw) bersabda:
‘Di hari Arafah seluruh amal diangkat menuju Allah kecuali amalan orang2 yg saling bermusuhan”

Kadang kiriman pesan di sosial media masih ditambahi kalimat sbb :

Dengan Segala Kerendahan Hati.
Atas nama pribadi saya Mohon Maaf Lahir & Bathin untuk segala khilaf dan kesalahan (tutur kata atau pun tulisan) baik sengaja maupun tidak, semoga kita semua mendapatkan rahmat, maghfirah, dan hidayah dari Allah Swt..Aamiin YRA..
————————-

Maka untuk hal demikian diatas salah seorang ulama Sunnah, Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri pun menjawab dan menguraikannya dengan jelas sebagai berikut.

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (H.r. Bukhari, no. 2449)

“Namun apakah serta-merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Mengapa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah ta’ala,” urai Ust Arifin Badri

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.” (H.r. Ibnu Majah, no. 1675; Al-Baihaqi, 7:356; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 4:4; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

“Dengan demikian, orang yang “meminta maaf tanpa sebab” kepada semua orang bisa terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula dengan mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun (seperti mau puasa dan hari raya) tidak dibenarkan dalam Islam dan bukan ajaran Islam,” pungkas Dr Arifin Badri.

comments

LEAVE A REPLY