Amirsyah Tambunan : Cerdas Bermedia Dengan Wasathiyatul Islam

101

 

JAKARTA, Lensa Islam – Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) resmi membuka acara Workshop Konten Kreatif di Media Sosial Senin 15/11/21 secara hybrid di Medan.

Dalam paparan sebagai pembicara Dr. Amirsyah Tambunan Sekjen MUI Pusat mengatakan bahwa untuk mewujudkan pemahaman wasathiyatul Islam MUI berdasarkan hasil Munas MUi di Surabaya 2015. MUI telah menjadikan Wasathiyatul Islam sebagai program unggulan dalam kaitannya dengan media, sehingga cerdas bermedia sosial yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spritual, kecerdasan sosial dan kecerdasan enterpreunership.

Dalam konteks ini kata Amirsyah wasathiyah tidak sebatas pemahaman klasik seperti yang jelaskan para ulama akan tetapi dapat di kontekstual kan dalam kondisi kekinian yakni:

Pertama, Ibnu ‘Asyur, kata wasath berarti sesuatu yang ada di tengah atau sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding.

Kedua, Al -Asfahany, kata wasathan berarti tengah-tengah di antara dua batas (a’un) atau bisa berarti yang standar. Kata tersebut juga bermakna menjaga dari sikap melampaui batas (ifrath) dan ekstrem (tafrith).

Ketiga, Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Munir menegaskan bahwa kata al-wasath adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah atau مَرْكَزُ الدَّائِرَةِ, kemudian makna tersebut digunakan juga untuk sifat atau perbuatan yang terpuji, seperti pemberani adalah pertengahan di antara dua ujung.

“Dan demikianlah Kami menjadikan kalian umat yang pertengahan”, artinya “dan “demikianlah Kami memberi hidayah kepada kalian semua pada jalan yang lurus, yaitu agama Islam. Kami memindahkan kalian menuju kiblatnya Nabi Ibrahim AS dan Kami memilihkannya untuk kalian.

Dalam konteks menjadikan Muslimin sebagai pilihan yang terbaik, adil, pilihan umat-umat, pertengahan dalam setiap hal, tidak ifrath dan tafrith dalam urusan agama dan dunia. Tidak melampaui batas (ghuluw) dalam melaksanakan agama dan tidak seenaknya sendiri di dalam melaksanakan kewajibannya.”

Keempat, Al-Thabary memiliki kecenderungan yang sangat unik, yakni dalam memberikan makna seringkali berdasarkan riwayat. Terdapat 13 riwayat yang menunjukkan kata al-wasath bermakna al-‘adl, disebabkan hanya orang-orang yang adil saja yang bisa bersikap seimbang dan bisa disebut sebagai orang pilihan. Diantara redaksi riwayat yang dimaksud, yaitu:

عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ وَكَذَالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا قَال: عُدُوْلًا .

Artinya: “Dari Abi Sa’id dari Nabi bersabda; “Dan demikianlah Kami jadikan kalian umat yang wasathan”. Beliau berkata: (maknanya itu) adil.”
Mengapa menekankan keadilan karena adil membuat manusia aman, nyaman termasuk dalam menggunakan media sosial secara Arif dan bijak, sehingga terhindar dari ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Ekstrim kiri misalanya menggunakan cara adu domba (namimah), hoax dan fitnah. Sedangkan ekstrim kanan menggunakan sikap yang berlebihan (ghulu) sehingga menjadikan media sosial seperti “Tuhan” dengan menghabiskan waktu tanpa peduli terhadap keadilan.

Oleh karena itu Allah berfirman QS :2 : 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Terjemahan
Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.

Oleh sebab itu bijak bermedia sosial sesuai Fatwa No 24 Tahun 2017 Tentang Bermuaamalah di Media Sosial. Secara umum ada dua; pertama haram menggunakan media sosial dengan menjadikan konten media digital yang berisi hoax, fitnah, ghibah, namimah, desas desus, kabar bohong, ujaran kebencian, aib dan kejelekan seseorang, informasi pribadi yang diumbar ke publik, dan hal-hal lain sejenis sebagai sarana memperoleh simpati, lahan pekerjaan, sarana provokasi, agitasi, dan sarana mencari keuntungan politik serta ekonomi, dan terhadap masalah tersebut muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai hukum dan pedomannya.

Kedua, wajib hukumnya menggunakan media sosial untuk menyampaikan kebenaran dalam rangka mengungkapkan kebenaran sebab menutupi kebenaran sama bahayanya dengan menyebarkan fitnah dan adu domba (namimah). Sekali lagi mari kita gunakan Medsos sebagai media dakwah untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa.

* ) Diringkas dari Ceramah Workshop Bermedia Sosial dengan dasar Wasathiyatul Islam. Narsum sebagai Sekjen MUI Pusat.

comments

LEAVE A REPLY