Difitnah Said Aqil sejak 2013 ini bantahan Ketua Yayasan Assunnah Cirebon saat itu

88

Cirebon, Lensa Islam : Isu miring tentang Yayasan Assunnah Cirebon kembali menerpa. Dikatakan bahwa lembaga pendidikan tersebut adalah yayasan beraliran keras yang perlu diwaspadai. Hal ini tentu saja langsung mendapat respon dari pihak Yayasan Assunnah.

Dalam siaran persnya pada tahun 2013, Ketua Yayasan Assunnah Cirebon saat itu, Muhammad Toharo Lc, menegaskan bahwa Yayasan Assunnah Cirebon resmi mempunyai legalitas hukum dari Kemenkumham.

“Yayasan Assunnah Cirebon dalam ilmu, amal, dan dakwahnya bermanhaj (mempunyai metode) Al Quran dan Hadis dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Salafushalih) yakni para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in Rodhialloohu ‘anhum,” kata Muhammad Toharo.

Begitu juga di dalam berdakwah, menurut beliau bahwa Yayasan Assunnah Cirebon mengedepankan keilmiahan, hikmah, dan kelembutan.

“Yayasan Assunnah Cirebon mendakwahkan untuk menaati Pemerintah RI dalam hal yang makruf dan menyerukan untuk tidak menentang kepada pemerintah. Jika diperlukan nasihat kepada pemerintah, harus dilakukan dengan cara yang baik dan santun secara langsung dengan mendatanginya, dan mendakwahkan kepada umat untuk mendoakan pemerintah dengan doa-doa kebaikan untuk mereka,” ujarnya.

Muhammad Toharo juga menegaskan, kalau Yayasan Assunnah Cirebon menyelengarakan pendidikan resmi berafiliasi dengan Dinas Pendidikkan dan Kemenag RI dan tidak pernah ada satu pun santri atau alumni yang menjadi tersangkut masalah kriminal dan radikalisme, hal ini bisa dicek dari catatan data santri dan instrumen manajemen lainnya.

Tak hanya itu, Yayasan Assunnah Cirebon juga aktif membantu pemerintah untuk meluruskan pemahaman tentang radikalisme, melalui sarana media : radio dakwah, majelis taklim, membagikan buku-buku tentang bahaya radikalisme dan terorisme, serta tabligh akbar berkaitan hal itu yang bekerja sama dengan Polres Cirebon dan pihak keamanan terkait.

“Adapun tentang wahabi, hal ini telah menjadi isu pemecah belah antara paham tradisional dan pemahaman pemurnian Islam sejak dahulu. Sejatinya, beberapa ormas yang mempunyai pemahaman pemurnian Islam dan ormas yang mempunyai pemahaman tradisional tersebut sudah ada sejak dulu dan kedua belah pihak selalu berusaha untuk berdiri di atas tatanan ilmiah dan mempertahankan ukhuwah Islamiyah,” tandasnya.

Namun, lanjut Muhammad Toharo, munculnya aktivis dakwah di daerah melalui yayasan-yayasan Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengusung pemurnian Islam di berbagai wilayah di Indonesia, seolah menjadi ‘wahabi baru yang radikal’ isu ini diusung dan diprovokasi oleh pihak ketiga untuk memecah belah masyarakat, bahkan memprovokasi mereka untuk bermusuhan.

Ia mengajak umat Islam untuk mengedepankan keilmiahan, mempertahankan ukhuwah Islamiyah, persatuan dan ketenteraman bangsa.

“Menebar berita bohong dan data yang tidak valid adalah mufakat sebuah kezaliman dan melanggar peraturan yang ada seperti UU IT, contohnya seperti menyebarkan isu miring tentang Yayasan Assunnah Cirebon,” tegasnya.

Menurut dia, tuduhan bahwa Yayasan Assunnah Cirebon sebagai yayasan radikal, santrinya menjadi tersangka pengeboman, melarang ziarah kubur, dan mengkafirkan warga ormas adalah tuduhan dusta dan zalim yang dialamatkan kepada Yayasan Assunah Cirebon ini.

Diri juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan tradisi keilmiahan, mempertahankan ukhuwah Islamiyah, persatuan dan ketenteraman bangsa, menjauhi provokasi serta su’udzon. Serta mengedepankan komunikasi yang sehat dan adil.

“Untuk media pemberitaan dan narasumber sebaiknya lebih arif dan cerdas lagi dalam mengangkat isu dengan mengecek data, tabayyun, dan memperhatikan etika Islami dalam menyampaikan informasi juga peraturan dan perundangan pers yang berlaku,” lanjutnya.

Terakhir pimpinan Yayasan Assunnah Cirebon itu juga selalu siap bekerja sama dengan Pemerintah untuk meluruskan pemahaman dan memerangi pemikiran terorisme dan radikalisme ada.

Berikan Tanggapan Anda

comments

LEAVE A REPLY