Turki : Prancis Tidak Layak Mengajari Kami tentang Genosida

27

Lensaislam.com : Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa Prancis tidak layak mengajari Turki tentang genosida dan sejarahnya.

“Perancis seharusnya memikirkan sejarah kelam mereka sendiri di Rwanda dan Aljazair,” kata Mevlut Cavusoglu pada pertemuan NATO di provinsi Mediterania, Antalya, seperti dilansir dari Middle East Monitor, Ahad, (14/4/2019).

Selama perjuangan mereka untuk merdeka dari penjajahan Perancis, sekitar 1,5 juta orang di Aljazair telah menjadi korban, sementara ratusan ribu lainnya terluka, hilang, atau diusir dari rumah mereka.

Aljazair telah berulang kali meminta Prancis untuk mengakui kejahatan era kolonialnya.

Perancis telah mendukung pemerintah Rwanda yang dipimpin Hutu, termasuk pelatihan senjata dan militer, yang pada tahun 1994 melakukan genosida terhadap etnis Tutsi di negara itu. Prancis juga membangun zona militer yang memungkinkan banyak penjahat perang melarikan diri.

Cavusoglu juga menekankan bahwa Deklarasi Perancis bertentangan dengan pengadilan konstitusi Perancis. “Dalam membuat deklarasi, sayangnya, presiden Anda [Emanuel Macron] dikalahkan oleh populisme,” tambah Cavusoglu.

Turki dituduh melakukan genosida terhadap etnis Armenia pada tahun 1915.

Posisi Turki pada peristiwa 1915 adalah bahwa kematian orang-orang Armenia di Anatolia timur terjadi ketika beberapa pihak berpihak pada invasi Rusia dan memberontak melawan pasukan Ottoman. Pemindahan warga Armenia berikutnya menghasilkan banyak korban.

Turki menolak penyajian insiden tersebut sebagai “genosida” tetapi menggambarkan peristiwa 1915 sebagai tragedi di mana kedua belah pihak menderita korban.

Ankara telah berulang kali mengusulkan pembentukan komisi gabungan para sejarawan dari Turki dan Armenia ditambah para pakar internasional untuk mengatasi masalah ini. (DH/MTD)

Sumber : Middle East Monitor | Redaktur : Hermanto Deli

Berikan Tanggapan Anda

comments

LEAVE A REPLY