Tangkis Coronavirus, Jamu Tradisional Laris Manis

591

Lensaislam.com : Minuman jamu tradisional mendadak laris manis diburu oleh masyarakat di tengah semakin meningkatnya wabah virus corona (COVID-19). Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat jamu, seperti : Kunyit, temulawak, jahe merah, serai, dan kayu manis laris terjual di pasaran membuat harga melambung tinggi hingga 150 persen.

Henny Harsono, 63 tahun, seorang penggemar jamu mengatakan anak-anaknya yang berusia 30-an telah mulai mengkonsumsi jamu sejak COVID-19 mulai menyebar di luar China. “Mereka sekarang membawa termos kecil jamu buatan sendiri ke kantor,” kata Henny saat berbelanja di pasar tradisional di Jakarta Selatan, seperti dilansir dari Channel News Asia, Kamis, (12/3/2020).

Mbak Parinem, seorang penjual jamu di pasar mengatakan bahwa pelanggan mengambil semua ramuannya ketika Presiden Jokowi mengumumkan pasien positif virus corona ditemukan di Indonesia.

“Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka membutuhkan ramuan-ramuan ini untuk menangkal virus corona,” kata pria berusia 64, suami Mbak Parinem.

Tingginya permintaan membuat harga satu kilogram kunyit Jawa dari Rp. 40.000 menjadi Rp. 100.000 rupiah. Harga serai juga dua kali lipat menjadi Rp. 60.000, sedangkan jahe merah dijual Rp. 150.000/kg dari Rp. 85.000.

“Meskipun harganya mahal, stok kunyit Jawa saya terjual habis dalam dua hari pertama,” kata Mbak Parinem. Setelah berjualan selama 25 tahun, Mbak Parinem mengatakan hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan saat wabah flu burung, SARS dan MERS.

Mbak Surini, 62 tahun, seorang penjual jamu mengaku senang bahwa usahanya telah laris manis selama dua minggu terakhir. Mbak Surini menjajakan jamu di pasar tradisional, menawarkan botol ramuan buatan sendiri kepada pelanggan.

“Biasanya saya menjual sekitar 50 botol per hari, tetapi sekarang saya bisa menjual sekitar 70 botol,” ungkap Mbak Surini. Sebelum wabah COVID-19, Mbak Surini menjual botol jamu 330ml seharga Rp. 10.000, sekarang harganya Rp. 15.000.

Jamu sangat populer di Pulau Jawa, namun juga sangat mudah ditemukan di seluruh Indonesia. Para presiden, seperti mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo, juga dikenal sebagai penggemar jamu.

Tahun lalu, Presiden Widodo berbagi kebiasaan meminum jamu dalam sebuah video Youtube dan mengatakan ia telah minum jamu setiap pagi selama sekitar 18 tahun. Presiden Jokowi mengatakan ini membuatnya sehat dan bugar.

Sementara itu, menanggapi seruan untuk memperbanyak meminum jamu dan mengonsumsi suplemen tradisional, Dr Erlina Burhan, juru bicara Asosiasi Medis Indonesia, mengatakan bahwa pengobatan herbal tradisional bukanlah obat anti-coronavirus. “Herbal hanya bisa menjadi antioksidan,” ungkap Dr Erlina.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan untuk sementara beberapa pengobatan barat, tradisional atau produksi rumahan telah dapat memberikan kenyamanan dan mengurangi gejala COVID-19, namun belum ada bukti hingga saat ini pengobatan tradisional itu mencegah atau menyembuhkan coronavirus.

Ketua Asosiasi Dokter Medis Herbal Indonesia Hardhi Pranata mengatakan, sementara penelitian menunjukkan bahwa beberapa herbal adalah antioksidan atau memiliki sifat anti-inflamasi. Namun itu tidak berarti bahwa herbal dapat memerangi COVID-19.

“Efek herbal hanya dapat dirasakan jika mereka dikonsumsi secara teratur selama setidaknya beberapa bulan. Efeknya (mengkonsumsi jamu sekarang) tentu saja tidak sebagus yang mengkonsumsinya setiap hari,” kata Dr Pranata. (DH/MTD)

Sumber : Channel News Asia | Redaktur : Hermanto Deli

comments

LEAVE A REPLY