Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mengalami Koreksi

158

Lensaislam.com : Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan bahwa secara umum kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini mengalami koreksi. Namun hal itu dipandang masih cukup wajar dibandingkan negara-negara lain. Hal itu diungkapkan oleh Sri Mulyani dalam keterangan tertulisnya yang bertajuk : “APBN KiTa (Kinerja dan Fakta)”.

“Sebagai pembuka, Saya jelaskan secara umum kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami koreksi, namun masih cukup wajar dibandingkan negara-negara lain,” tulis Sri Mulyani melalui akun Instagramnya, Kamis, (17/6/2020).

Realisasi pendapatan negara s.d. 31 Mei 2020 mencapai Rp 664,3 triliun atau 37% dari target penerimaan sesuai ketentuan Perpres 54 Tahun 2020, tetapi terkontraksi 9% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Belanja negara mencapai Rp843,9 triliun atau mencapai 32,3%, tapi terkontraksi 1,4%. Dengan demikian, realisasi defisit mencapai Rp179,6 triliun atau 1,1% dari PDB.

Berikut pernyataan lengkap Sri Mulyani yang bertajuk : “APBN KiTa (Kinerja dan Fakta)” :

Apa kabar APBN kita? Setiap bulan Saya bersama jajaran di lingkungan Kemenkeu memberikan penjelasan yang update dan terkini mengenai kondisi APBN kepada awak media pada Konferensi Pers yang bertajuk “APBN KiTa (Kinerja dan Fakta)”.

Sebagai pembuka, Saya jelaskan secara umum kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami koreksi, namun masih cukup wajar dibandingkan negara-negara lain. Stabilitas makro dan confidence market akan terus kita coba pertahankan di dalam momentum mengembalikan pemulihan ekonomi terutama pada kuartal ketiga (Q3) ini.

Prakiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan sangat ditentukan oleh capaian di Q3, apakah lebih baik dari kuartal kedua (Q2) dan apakah di kuartal keempat (Q4) akan ada, paling tidak, recovery yang mulai muncul dan menguat.

Proyeksi APBN di tahun 2020 masih menggunakan asumsi antara -0,4% hingga 2,3%. Namun berdasarkan hasil asessment terkini, terdapat indikasi bahwa kinerja di Q2 lebih baik dibanding hasil asessment Mei 2020 dan itu memberikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh positif di 2020.

Realisasi pendapatan negara s.d. 31 Mei 2020 mencapai Rp664,3 triliun atau 37% dari target penerimaan sesuai ketentuan Perpres 54 Tahun 2020, tetapi terkontraksi 9% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Belanja negara mencapai Rp843,9 triliun atau mencapai 32,3%, tapi terkontraksi 1,4%. Dengan demikian, realisasi defisit mencapai Rp179,6 triliun atau 1,1% dari PDB.

Memperhatikan kondisi ini, fokus para pembuat kebijakan adalah mengupayakan kontraksi tersebut menjadi pemulihan. Seluruh APBN difokuskan untuk mengurangi tekanan yang begitu berat di Q2.

Anggaran untuk pemulihan ekonomi yang telah dialokasikan kini masuk di tahapan implementasi. Sebagian masih berada di tahap awal dan diharapkan segera full speed. Diharapkan pada Q3 akan terjadi pemulihan, sehingga masyarakat, usaha kecil menengah, dunia usaha, dan daerah-daerah bisa memulai kembali kegiatan ekonominya.

Sumber : @smindrawati | Redaktur : Hermanto Deli

comments

LEAVE A REPLY