Refleksi Hari Santri Nasional 2019

353

Literasi Pergerakan dan Dedikasi Santri untuk Indonesia.

“Perjuangan Santri Tidak Akan Pernah Pudar dan Lekang Oleh Waktu”

Lensa Islam : Beberapa catatan sejarah menyatakan bahwa tanpa bantuan para santri dan ulama, kesuksesan bangsa Indonesia mempertahankan NKRI tidak akan terwujud. Terlebih, pada waktu itu, karena pemerintah Indonesia masih pemerintahan muda yang baru merdeka, ketimbang menuruti pemerintah, para santri lebih patuh terhadap kyai/ulamanya.

Para santri bersama dengan pejuang lainnya mempunyai peran yang sangat penting dalam merebut kembali kedaulatan negara republik Indonesia dari penjajah bangsa asing. Sehingga membuat tanggal 22 Oktober menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi para kyai dan santri. Itulah alasan yang mendasari kenapa Hari Santri Nasional ditetapkan pada tanggal 22 Oktober.

Mereka yang berjuang itu antara lain KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan salah satu tokoh yang mendirikan Nahdatul Ulama, KH. Ahmad Dalan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad, dan Abdul Rahman dari Matlaul Anwar. Belum lagi para perwira atau prajurit Pembela Tanah Air yang ternyata banyak berasal dari kalangan santri. Sehingga perjuangan para santri harus diperingatkan menjadi salah satu hari besar di Indonesia.

Perjuangan para santri dalam mengawal kedaulatan NKRI masih terbukti hingga saat ini, sekalipun santri sangat kental dengan pemahaman agamanya, tidak pernah sekalipun mempertentangkan perbedaan-perbedaan yang ada di dalam Indonesia. Hal ini dikarenakan santri memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi, dalam urusan berbangsa dan bernegara, santri menempatkan pemahaman agama sebagai pendidik moral masyarakat bukan sebagai alasan untuk menyalahkan agama orang lain.

Belakangan ini fenomena radikalisme kembali menjadi persoalan dan keresahan tersendiri bagi umat beragama khususnya umat Islam. Fenomena radikalisme tidak hanya menimpa masyarakat umum melainkan telah masuk ke kampus-kampus, masjid-masjid dan tempat-tempat strategis lainnya.

Satu catatan penting yang harus khalayak umum ketahui, bahwa Radikalisme tidak hanya identik dengan agama Islam, radikalisme berpotensi ada dalam setiap unsur pemahaman agama, masyarakat dan ideologi. Oleh karenanya, pada titik inilah perjuangan kaum santri perlu digalakkan kembali.

Penjajahan di bumi pertiwi memang telah terhapus kan, tetapi tidak menutup kemungkinan ancaman yang berpotensi memecah-belah bangsa Indonesia tidak ada, justru tugas besar yang paling rumit adalah mempertahankan keutuhan ketimbang memulai keutuhan itu sendiri.

Santri telah menunjukkan dedikasinya dalam membela bangsa dan tanah air, kini sudah saatnya santri mendedikasikan dirinya untuk bangsa dengan cara mempertahankan keutuhan dan kedaulatan bangsa ini dari ancaman radikalisme. Misalnya, santri yang menempuh pendidikan di jenjang Perguruan Tinggi, maka untuk menyikapi paham radikal yang bertebaran di dalam kampus, santri harus ambil peran untuk menebarkan paham agama yang toleran sebagaimana yang telah diajarkan di pesantren.

Filterisasi santri terhadap paham radikalisme yang bertebaran di masyarakat umum maupun di kampus adalah salah satu bentuk dedikasi untuk mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman radikalisme yang semakin hari semakin mengakar di tengah kehidupan masyarakat kita.

Oleh karenanya, santri sebagai elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara – yang memiliki pemahaman agama sangat kental namun tidak mengenyampingkan nasionalisme tidak dapat di sia-siakan begitu saja, sebab keberadaan santri di tengah kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara telah bersungguh-sungguh untuk mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kepentingan kedaulatan, kesatuan dan persatuan bangsa dan negara. Sebab bagi santri; “Hubbul Wathan Minal Iman” tak bisa ditawar dan ditukar oleh apapun dan harga berapapun.

comments

LEAVE A REPLY