MUI Sumbar Dukung Seruan Agar Pejabat Tak Gunakan Salam Semua Agama

170

Lensaislam.com : Ketua MUI Sumatera Barat Buya Gusrizal Gazahar mengatakan MUI Sumbar mendukung seruan dan imbauan agar umat Islam terutama para pejabat tidak menggunakan salam semua agama. MUI Sumbar juga mengingatkan agar umat lain tidak menggunakan salam umat Islam sebagai pembuka pembicaraan mereka.

“Bagi kaum muslimin, salam bukanlah semata pembuka pidato atau pembukaan pembicaraan. Salam merupakan do’a keselamatan dan rahmat untuk orang yang diberikan salam. Do’a atau permohonan, haram hukumnya dimintakan kepada selain Allah Subhanahu Wa Taala. Itulah yang ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dalam firman-Nya: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Sehingga umat islam khususnya pejabat diimbau untuk tidak mengucapkan salam semua agama, begitupun sebaliknya bagi umat lain,” ungkap Buya Gusrizal, seperti dilansir dari Harian Haluan, Senin, (11/11/2019).

Buya Gusrizal menjelaskanbahwa memintakan rahmat dan keselamatan tentu berlandaskan pula kepada keyakinan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak mendapatkan rahmat dan keselamatan tersebut.

“Jadi dalam ucapan salam, ada aqidah dan ada ibadah. Keduanya tidaklah boleh ditundukkan pada inklusifitas toleransi antar umat beragama,” kata Buya Gusrizal.

Buya menambhakan, berpedoman pada ayat “Lakum diinukum wa liiyya diin” (untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku), merupakan ketentuan mutlak yang harus dipakai dalam masalah ini.

“Imbauan ini memang patut sekali ditujukan lebih khusus kepada para pejabat. Menduduki jabatan tinggi, belum tentu menjamin seseorang faham secara mendalam bagaimana cara beragama. Karena itu, semestinya sikap keberagamaan tidaklah ditauladani dari seseorang hanya dengan melihat jabatan yang dia sandang. Namun apa hendak dikata, kondisi umat hari ini begitu mudah terpengaruh oleh cara-cara yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa. Ditambah lagi dengan sikap menjilat dan asal bapak senang, cenderung membuat “bawahan” ikut-ikutan dengan cara-cara “atasan” walaupun keliru,” tegas Buya Gusrizal.

Dengan alasan di atas, menurut Buya Gusrizal patut sekali para pejabat menyadari bahwa cara-cara yang mereka lakukan bisa membawa kepada kesesatan dalam bentuk pluralisme agama. “Hal itu bisa masuk dalam kategori pemimpin jahil yang sesat dan menyesatkan,” jelas Buya Gusrizal.

Melalui imbauan ini Buya Gusrizal berharap agar umat muslim khususnya pejabat tidak lagi menggunakan salam pembuka seluruh agama tersebut.

“Saya mengingatkan para pemimpin negeri ini, janganlah menjadi pemula dalam kesalahan. Dengarkanlah peringatan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, ‘siapa saja yang menjadi pembuka jalan keburukan, akan memikul dosa perbuataannya dan perbuatan orang-orang yang mengikutinya’. Allahu yahdii man yasyaa’ ila shiraathim mustaqiim,” tutup Buya Gusrizal.

Sumber : Harian Haluan

Berikan Tanggapan Anda

comments

LEAVE A REPLY