Kisah Suu Kyi: Peraih Nobel Perdamaian, Tutup Mata Genosida Rohingya, Dikudeta Militer

264

Lensaislam.com : Aung San Suu Kyi, lahir 19 Juni 1945, saat ini berumur 75 tahun merupakan seorang tokoh terkenal aktivis pro-demokrasi Myanmar dan pemimpin Partai National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi atau NLD).

Dia sering dipanggil Daw Aung San Suu Kyi. Daw bukan bagian dari namanya, tetapi panggilan kehormatan untuk orang yang lebih tua dan dihormati.

Dikutip dari Wikipedia, pada tahun 1991, Suu Kyi menerima Penghargaan Nobel Perdamaian atas perjuangannya dalam memajukan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer.

Suu Kyi dibebaskan secara resmi oleh junta militer Myanmar pada tanggal 13 November 2010 setelah mendekam sebagai tahanan rumah selama 15 tahun dari 21 tahun masa penahanannya sejak pemilihan umum tahun 1990.

November 2015, Partai NLD menang telak dalam pemilu dan Suu Kyi mengambil alih kekuasaan dengan peran yang dibuat khusus sebagai Penasehat Negara dan menjadi pemimpin De Facto Myanmar.

Pada tahun 2017, Suu Kyi menjadi sorotan dunia internasional ketika 800.000 etnis Muslim Rohingya di Provinsi Rakhine melarikan diri ke Bangladesh. Investigasi PBB menyebut militer Myanmar telah melakukan tindakan genosida dengan melakukan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran desa Rohingya. Dunia internasional ramai-ramai mengecam aksi tersebut, namun Suu Kyi menganggap tindakan tersebut hanya kesalahan informasi.

Pada 1 Februari 2021, Militer Myanmar mengambil alih kekuasaaan dalam kudeta dini hari terhadap pemerintahan Aung San Suu Kyi. Suu Kyi bersama dengan sejumlah tokoh senior lainnya dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) juga ditangkap oleh pihak militer. Dalam pernyataannya, Militer Myanmar mengatakan penahanan itu dilakukan sebagai tanggapan atas kecurangan pemilu dan untuk menyelamatkan negara.

Militer kemudian menunjuk Panglima Tertinggi Militer Jenderal Min Aung Hlaing sebagai Presiden sementara dan memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun. (DH/MTD)

Redaktur : Hermanto Deli

comments

LEAVE A REPLY