Inilah Silsilah Keluarga Raja Arab Saudi : Sejarah, Asal Usul dan Berdirinya Kerajaan Arab Saudi

1387

Sejarah Keluarga Kerajaan Saudi

Untuk mengetahui sejarah keluarga Kerajaan Arab Saudi, kita perlu melacak akarnya kembali ke peradaban paling awal di Jazirah Arab. Selama berabad-abad, Jazirah Arab telah memainkan peran penting dalam sejarah sebagai pusat perdagangan kuno dan sebagai tempat pusat kelahiran Agama Islam.

Berlokasi strategis di antara dua pusat besar peradaban pada saat itu, Lembah Sungai Nil dan Mesopotamia, Jazirah Arab adalah persimpangan jalan dunia kuno. Perdagangan sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan di kawasan itu; rute karavan memungkinkan kehidupan dalam iklim gersang.

Orang-orang di Jazirah itu mengembangkan jaringan rute perdagangan yang rumit untuk mengangkut barang-barang pertanian yang sangat dicari di Mesopotamia, Lembah Nil, dan Cekungan Mediterania. Barang-barang ini termasuk almond dari Taif, kurma dari banyak oasis, dan aromatik seperti kemenyan dan mur dari dataran Tihama.

Karavan besar melakukan perjalanan dari tempat yang sekarang Oman dan Yaman, di sepanjang rute perdagangan besar yang melintasi Provinsi Asir Arab Saudi dan kemudian melalui Mekah dan Madinah, akhirnya tiba di pusat-pusat kota di utara dan barat.

Orang-orang di Jazirah Arab sebagian besar tetap tidak tersentuh oleh kekacauan politik di Mesopotamia, Lembah Nil dan Mediterania timur. Barang dan jasa mereka sangat diminati terlepas dari kekuatan mana yang dominan saat ini – Babel, Mesir, Persia, Yunani atau Roma. Selain itu, hamparan padang pasir yang luas di Jazirah itu membentuk penghalang alami yang melindunginya dari invasi oleh tetangga yang kuat saat itu.

Lahirnya Nabi Muhammad dan Peradaban Islam 

Sekitar tahun 610 M, Muhammad, seorang pemuda yang berasal dari pusat komersial kota Mekah menerima wahyu dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril dan diangkat menjadi Nabi. Nabi Muhammad kemudian berdakwah kepada kaumnya dan menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan hingga akhirnya Nabi Muhammad berhasil menegakkan peradaban baru, Peradaban Islam di Jazirah Arab.

Kurang dari 100 tahun setelah kelahiran Islam, Peradaban Islam terus meluas dari Spanyol hingga ke bagian India dan Cina. Meskipun pusat-pusat kekuasaan politik telah pindah Jazirah Arab, perdagangan tetap berkembang di daerah tersebut dan Kota Mekkah dan Madinah menjadi pusat ibadah umat Islam.

Munculnya bahasa Arab sebagai bahasa pembelajaran internasional adalah faktor utama lain dalam pengembangan budaya Jazirah Arab. Dunia Muslim menjadi pusat pembelajaran dan kemajuan ilmiah selama apa yang dikenal sebagai “Zaman Keemasan”. Para cendekiawan Muslim memberikan kontribusi besar dalam banyak bidang, termasuk kedokteran, biologi, filsafat, astronomi, seni, dan sastra. Banyak ide dan metode yang dipelopori oleh para sarjana Muslim menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern saat ini.

Kerajaan Islam berkembang pesat hingga abad ke-17, kemudian terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan Islam yang lebih kecil. Jazirah Arab secara bertahap kemudian memasuki periode isolasi yang relatif, meskipun Mekah dan Madinah tetap menjadi jantung spiritual dunia Islam dan terus menarik para peziarah dari banyak negara.

Berdirinya Negara Saudi Pertama

Pada awal abad ke-18, seorang Ulama Islam dan reformis bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai mengajak masyarakat di daerahnya untuk kembali ke ajaran Islam yang asli. Beliau awalnya mendapat penentangan dari para cendekiawan dan pemimpin agama setempat yang memandang ajarannya sebagai ancaman terhadap basis kekuasaan mereka. Syaikh kemudian mencari perlindungan ke kota Dir’iyyah, yang dikuasai oleh Muhammad bin Saud.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud kemudian bekerja sama untuk mendedikasikan diri mereka untuk mengembalikan ajaran Islam yang murni kepada masyarakatnya. Dalam semangat itu, Muhammad bin Saud mendirikan Negara Saudi Pertama dengan ibukota Dir’iyyah, yang makmur di bawah bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pada tahun 1788, Negara Saudi Pertama berhasil memerintah seluruh wilayah yang dikenal sebagai Najd. Pada awal abad ke-19, kekuasaannya terus meluas ke sebagian besar Jazirah Arab, termasuk Mekah dan Madinah.

Popularitas dan keberhasilan Al-Saud membangkitkan kecurigaan Kekaisaran Ottoman, penguasa dominan di Timur Tengah dan Afrika Utara pada saat itu. Pada tahun 1818, Kekaisaran Ottoman mengirim pasukan ekspedisi besar yang dipersenjatai dengan artileri modern ke wilayah barat Arab. Tentara Ottoman mengepung Kota Dir’iyyah. Pasukan Ottoman meratakan kota dengan senjatanya dan membuatnya tidak dapat dihuni secara permanen dengan menghancurkan sumur dan mencabut semua pohon kurma.

Negara Saudi Kedua

Pada 1824, keluarga Al-Saud berhasil mendapatkan kembali kendali politik di Jazirah Arab tengah. Penerus Kelurga Al-Saud, Turki bin Abdullah Al-Saud memindahkan ibukotanya ke Riyadh, sekitar 20 mil selatan Dir’iyyah, dan mendirikan Negara Saudi Kedua. Selama 11 tahun pemerintahannya, Turki Al-Saudi berhasil merebut kembali sebagian besar tanah yang hilang sejak penyerangan Utsmani. Ketika ia memperluas kekuasaannya, ia mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa rakyatnya menikmati hak-hak, dan ia memperhatikan kesejahteraan mereka.

Di bawah Turki dan putranya, Faisal, Negara Saudi Kedua menikmati masa damai dan kemakmuran, dan perdagangan dan pertanian berkembang. Ketenangan itu hancur kembali pada tahun 1865 saat Kekaisaran Ottoman yang baru memperluas wilayah ke Jazirah Arab. Tentara Ottoman merebut bagian-bagian dari Negara Saudi, yang pada waktu itu diperintah oleh putra Faisal, Abdulrahman. Dengan dukungan Ottoman, keluarga Hail Al-Rashid melakukan upaya bersama untuk menggulingkan Negara Saudi Kedua.

Dihadapkan dengan pasukan yang jauh lebih besar dan lebih lengkap, Abdulrahman bin Faisal Al-Saud terpaksa meninggalkan perjuangannya pada tahun 1891. Dia mencari perlindungan dengan suku-suku Badui di padang pasir luas di Arabia timur yang dikenal sebagai Rub ‘Al-Khali. Dari sana, Abdulrahman dan keluarganya melakukan perjalanan ke Kuwait, di mana mereka tinggal sampai tahun 1902 dan membawa putranya yang masih muda, Abdulaziz, yang kemudian mendirikan Kerajaan Arab Saudi Ketiga.

Kerajaan Modern Arab Saudi Fase Ketiga 

Abdulaziz muda bertekad untuk mendapatkan kembali warisannya yang direbut oleh Keluarga Hail Al-Rashid dan Ottoman, yang telah mengambil alih Riyadh dan mendirikan Kegubernuran Ottoman di sana. Pada tahun 1902, Abdulaziz muda, yang hanya ditemani 40 pengikutnya mengadakan pawai malam yang berani menuju Riyadh untuk merebut kembali jantung kota, yang dikenal sebagai Benteng Masmak. Peristiwa legendaris itu menandai awal pembentukan Negara Saudi modern.

Setelah berhasil kembali mendapatkan Kota Riyadh, Abdulaziz kemudian berhasil merebut kembali semua Hijaz, termasuk Mekah dan Madinah, pada tahun 1924 hingga 1925. Dengan pengaruhnya, Abdulaziz berhasil menyatukan suku-suku yang bertikai menjadi satu negara.

Pada tanggal 23 September 1932, negara itu diresmikan menjadi Kerajaan Saudi Arabia dengan Islam sebagai agama resmi negara, Bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai konstitusinya.

Sejak Raja Abdulaziz Al-Saud mendirikan Kerajaan Arab Saudi modern (Saudi Fase ke-III) pada tahun 1932, transformasi Jazirah Arab menjadi sangat mencengangkan. Dalam beberapa dekade singkat, Jazirah Arab telah berubah dari gurun pasir menjadi negara modern yang canggih dan pemain utama di panggung internasional.

Silsilah Keluarga Kerajaan Arab Saudi

Beberapa hari terakhir ini, beredar kabar yang mengatakan bahwa Keluarga Al Saud berasal dari keturunan Yahudi. Dari kabar tersebut, Raja Arab Saudi berasal dari seorang Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Benarkah demikian?

Berdasarkan manuskrip silsilah Keluarga Al Saud, yang saat ini tersimpan baik di Daarah Malik Abdulaziz, Riyadh, sebuah Yayasan Penelitian dan Pelestarian sejarah dan budaya Arab Saudi dapat ditelusuri asal usul dan silsilah Keluarga Al Saud.

Dari Manuskrip tersebut dituliskan : Saud bin Abdulaziz bin Muhammad bin Saud bin Muhammad bin Muqrin bin Markah bin Ibrahim bin Musa bin Rabia bin Manea bin Rabiaa Al-Rubai Al-Waazid Al-Yazidi dari Al-Waazid Bani Hanifah.

Berdasarkan catatan tersebut, Keluarga Al Saud berasal dari seseorang bernama Mani’ bin Rabi’a al‐Muraydi. Mani’ bin Rabi’ah al-Muraydi adalah tokoh leluhur tertua dari Keluarga Al-Sa’ud yang berasal dari Kafilah Bani Hanifah.

Bani Hanifah adalah salah satu suku Arab lama yang terkenal. Nama kafilah ini berasal dari Hanifah bin Lajim bin Sha’ab bin Ali bin Bakr bin Wa’il bin Qasith bin Hinb bin Afsha bin Du’ami bin Judailah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazzar bin Ma’ad bin Adnan.

Tambahan redaksi : Dari data silsilah ini dapat dilihat bahwa Keluarga Al Saud bukanlah keturunan Yahudi. Jika Adnan yang dimaksud adalah salah seorang nenek moyang Bangsa Arab yang merupakan keturunan Nabi Ismail, maka silsilah Raja Arab Saudi tersambung hingga kepada Nabi Ismail bin Ibrahim Alaihimassalam. Wallahu a’lam.

Referensi : 

Redaktur : Hermanto Deli | Copyright © 2019 – Moslemtoday.com

comments

LEAVE A REPLY