Erdogan Tolak Kritikan Internasional Terkait Hagia Sophia : “Ini Hak Kedaulatan Turki”

275

Lensaislam.com : Keputusan Turki mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid telah memicu berbagai kritikan di seluruh dunia. Yunani dengan cepat mengutuk tindakan itu sebagai provokasi, Prancis menyesalkannya sementara AS juga menyatakan kekecewaannya.

Dewan Gereja Sedunia juga menulis surat kepada Erdogan untuk mengungkapkan kesedihan dan kegelisahan atas langkah itu dan mendesak Erdogan untuk membatalkan keputusan tersebut.

Namun Presiden Erdogan tetap teguh pendirian atas keputusannya itu. Presiden Erdogan menolak berbagai kritik dan kecaman dunia internasional dan menyatakan bahwa keputusan untuk mengubah status Hagia Sophia menjadi masjid adalah hak kedaulatan Turki.

“Mereka yang tidak mengambil langkah apapun melawan Islamofobia di negara mereka sendiri, sekarang mereka menyerang keinginan Turki untuk menggunakan hak-hak kedaulatannya,” kata Erdogan seperti dilansir dari Al Jazeera, Ahad, (12/7/2020).

Presiden Erdogan kemudian menegaskan bahwa kritikan terhadap Turki tentang Hagia Sophia secara langsung merupakan serangan terhadap kedaulatan Turki.

Sejak kepemimpinannya, Erdogan telah berulang kali menyerukan agar Hagia Sophia yang menakjubkan itu diganti namanya menjadi masjid dan pada 2018, Erdogan membacakan sebuah ayat dari Al-Quran di Hagia Sophia.

Hagia Sophia sebelumnya diubah menjadi masjid setelah Penaklukan Istanbul pada tahun 1453 M oleh Kekaisaran Ottoman. Hagia Sophia, salah satu situs warisan sejarah dan budaya paling terkenal di dunia, dibangun pada abad keenam pada masa Kekaisaran Bizantium Kristen dan pernah menjadi tahta suci Gereja Kristen Ortodoks.

Status Hagia Sophia kemudian diubah menjadi museum pada tahun 1935 oleh Mustafa Kemal Attaturk pada masa pemerintahan Republik Sekuler Turki. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wacana untuk mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid kembali menguat di masa pemerintahan Presiden Erdogan dan mendapatkan banyak dukungan dari rakyat Turki. (DH/MTD)

Sumber : Al Jazeera | Redaktur : Hermanto Deli

comments

LEAVE A REPLY