Dua Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Ustadz Abdullah Zaen di Cirebon

1359

Dua Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Ustadz Abdullah Zaen di Cirebon

Lensa Islam : CIREBON – Masjid As Sunnah Jalan Kalitanjung 52 B Kota Cirebon sejak pagi, Ahad, (7/5/2017) dipadati oleh ribuan jamaah. Kedatangan mereka adalah untuk menghadiri tabligh akbar bersama da’i kondang asal Banyumas, Ustadz Abdullah Zaen, MA.

Pukul 9 pagi, dua ribu orang sudah memasuki ruang utama masjid. Qoddarullah, alumni Pesantren Gontor ini tidak bisa menyampaikan ceramah sesuai jadwal karena sakit. Sementara ceramah digantikan oleh Ustadz Tata Abdul Ghoni.

“Semalam Ustadz sakit muntah-muntah dan keluar keringat dingin,” kata Ketua Panitia, Andriyanto kepada redaksi.

Panitia bertindak sigap dengan membawa dokter untuk memeriksa ustadz.

“Alhamdulillah sekarang sudah baikan dan ustadz siap menyampaikan materi,” ujar Andriyanto.

Pukul 10.45 wib, Ustadz Abdullah Zaen hadir di masjid menyampaikan ceramahnya. Pada pembuka tabligh akbar dengan judul “Miskin Perasaan” ini, beliau mengatakan, “kenapa kita beri judul miskin perasaan?.”

Alumni Universitas Islam Madinah ini membeberkan, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali mendapati masalah-masalah yang menyinggung perasaan.

“Perasaan antara anak terhadap orang tua, orang tua terhadap anak,” ujar Ustadz Abdullah Zaen.

Ustadz memberikan contoh, yaitu ketika seorang anak menjaga perasaan orang tuanya dengan tidak mau makan bersama.

“Seorang ulama, keturunan Nabi bernama Zainal Abidin. Beliau adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya tetapi tidak pernah makan bersama ibunya. Alasannya adalah karena khawatir beliau mengambil makanan yang ingin di makan ibunya,” tegas beliau.

Contoh miskin perasaan, lanjut beliau, ketika orang tua tidak memberikan apresiasi kepada anak-anaknya.

“Ada anak kecil menggambar gunung, pohon dan pemandangan. Tetapi orang tuanya tidak memberikan apresiasi terhadap anaknya. Maka ini miskin perasaan,” papar beliau.

Selain itu, masalah miskin perasaan juga kerap terjadi antara suami dan istri atau sebaliknya.

“Kadang seorang suami tidak mengerti perasaan istrinya. Nakuti-nakutin istri, menjadikan poligami sebagai alat untuk menakut-nakuti istrinya,” terang beliau.

Dalam kehidupan bertetangga, kadang praktek miskin perasaan terjadi. Padahal, yang pertama kali menolong jika ada musibah adalah tetangga.

“Ada yang tidak perhatian dengan tetangganya. Septiktangnya bocor kemana-mana tapi dibiarkan saja sehingga ketika musim hujan baunya kemana-mana,” terang beliau.

Selain hal-hal yang disebutkan diatas, Ustadz Abdullah Zaen menyebutkan bahwa praktek miskin perasaan juga kerap menimpa jamaah terhadap Ustadz atau sebaliknya.

Reporter: Budi Marta | Copyright © 1438 Hjr. (2017) – Lensaislam.com

Berikan Tanggapan Anda

comments

LEAVE A REPLY